Jumat, 25 Oktober 2013

KOTA BLITAR

Legenda

Seperti diketahui, menurut sejumlah buku sejarah, terutama buku Bale Latar, Blitar didirikan pada sekitar abad ke-15. Nilasuwarna atau Gusti Sudomo, anak dari Adipati Wilatika Tuban, adalah orang kepercayaan Kerajaan Majapahit, yang diyakini sebagai tokoh yang mbabat alas. Sesuai dengan sejarahnya, Blitar dahulu adalah hamparan hutan yang masih belum terjamah manusia. Nilasuwarna, ketika itu, mengemban tugas dari Majapahit untuk menumpas pasukan Tartar yang bersembunyi di dalam hutan selatan (Blitar dan sekitarnya). Sebab, bala tentara Tartar itu telah melakukan sejumlah pemberontakan yang dapat mengancam eksistensi Kerajaan Majapahit. Singkat cerita, Nilasuwarna pun telah berhasil menunaikan tugasnya dengan baik Bala pasukan Tartar yang bersembunyi di hutan selatan, dapat dikalahkan.

Sebagai imbalan atas jasa-jasanya, oleh Majapahit, Nilasuwarna diberikan hadiah untuk mengelola hutan selatan, yakni medan perang yang dipergunakannya melawan bala tentara Tartar yang telah berhasil dia taklukkan. Lebih daripada itu, Nilasuwarna kemudian juga dianugerahi gelar Adipati Ariyo Blitar I dengan daerah kekuasaan di hutan selatan. Kawasan hutan selatan inilah yang dalam perjalanannya kemudian dinamakan oleh Adipati Ariyo Blitar I sebagai Balitar (Bali Tartar). Nama tersebut adalah sebagai tanda atau pangenget untuk mengenang keberhasilannya menaklukkan hutan tersebut.

Sejak itu, Adipati Ariyo Blitar I mulai menjalankan kepemimpinan di bawah Kerajaan Majapahit dengan baik. Dia menikah dengan Gutri atau Dewi Rayung Wulan, dan dianugerahi anak Djoko Kandung. Namun, di tengah perjalanan kepemimpinan Ariyo Blitar I, terjadi sebuah pemberontakan yang dilakukan oleh Ki Sengguruh Kinareja, yang tidak lain adalah Patih Kadipaten Blitar sendiri.
Ki Sengguruh pun berhasil merebut kekuasaan dari tangan Adipati Ariyo Blitar I, yang dalam pertempuran dengan Sengguruh dikabarkan tewas. Selanjutnya Sengguruh memimpin Kadipaten Blitar dengan gelar Adipati Ariyo Blitar II. Selain itu, dia juga bermaksud menikahi Dewi Rayungwulan. Mengetahui bahwa ayah kandungnya (Adipati Ariyo Blitar I) dibunuh oleh Sengguruh atau Adipati Ariyo Blitar II maka Djoko Kandung pun membuat perhitungan. Dia kemudian melaksanakan pemberontakan atas Ariyo Blitar II, dan berhasil. Djoko Kandung kemudian dianugerahi gelar Adipati Ariyo Blitar III. Namun sayangnya dalam sejarah tercatat bahwa Joko Kandung tidak pernah mau menerima tahta itu, kendati secara de facto dia tetap memimpin warga Kadipaten Blitar.

Makanan Khas Blitar

Pecel Pincuk Blitar

Ditulis oleh Blitarian   
Wednesday, 11 February 2009
ImageBeberapa minggu ini, hujan terus mengguyur kota Blitar dan sekitarnya. Menurut beberapa sumber yang terpercaya, gunung Kelud sempat mengeluarkan gas beracun namun syukurlah tidak sampai berakibat fatal memakan korban jiwa. Hujan sempat berhenti 2 hari, namun angin datang dengan cukup kencang menyelubungi wilayah Blitar. Akibatnya...
banyak baliho dari para caleg partai porak poranda. Parahnya baliho komersial di dekat pom bensin Bon Rojo ukuran jumbo jatuh ke aspal. Untung tidak ada korban jiwa.
Sekarang hujan mulai turun lagi. Udara dingin kembali merasuk tubuh masyarakat Blitar. Untuk menghangatkan tubuh, Mbak Krisna sudah siap melayani warga Blitar menyuguhkan sepincuk nasi pecel plus minuman STMJ ( Susu Telur Madu Jahe ).
Mbak Krisna membuka warung pecel pincuk hanya malam hari, di Jl. A. Yani Blitar, timur Rumah Sakit Budi Rahayu. Mbak Krisna yang ramah itu, sudah 3 tahun lebih membuka warungnya. Pada tahun pertama, katanya, dia habis sambel pecel sebanyak 2 kilogram. Sekarang sudah lebih 9 kilogram perharinya. " Pintar saja enggak cukup Mas, untuk membuka warung seperti saya ini, harus telaten dan ulet, awalnya ya susah Mas. Dulu, pertama kali buka, habis sambel 2 kilogram saja sudah syukur Mas, sekarang sudah lumayan, tiap harinya tidak kurang dari 9 kilogram." Begitu cerita Mbak Krisna yang cantik itu.
Memang sudah banyak yang mengulas perihal sambel pecel dari Blitar. Mulai dari pabrik sambel pecel yang ada di jl. Cemara Karangsari Blitar, sampai warung pecel milik Mbok Bari yang konon kabarnya sudah berdiri sejak tahun 1964. dan sekarang sudah membuka cabang di berbagai tempat sampai 6 cabang lebih, termasuk di utara Makam Bung Karno.
Namun Mbak Krisna cukup jeli mengemas sambel pecel untuk masyarakat Blitar. Dia membuka warung pecel dengan PINCUK andalannya. Seusai makan, pincuk cukup di 'untel-untel' di lempar ke tempat sampah. Rasanya pun makin mencolok khas-nya sambel pecel Blitar. Mau mencoba ? Monggo mawon! 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar