Sabtu, 11 Oktober 2014

Kisahku (Edisi III)



Aku tau siapa diriku sekarang. Aku bukanlah remaja yang masih suka berpetualang untuk mencari ketulusan cinta. Aku sekarang adalah seorang wanita yang sudah harus memikirkan masa depan bersama lelaki pilihan. Ya, seperti apa yang terjadi dengan teman-teman ku saat ini. Usia 19 tahun menjelang 20 tahun adalah masa di mana seseorang harus memikirkan tentang sebuah keseriusan. Terlalu lama berpetualang akan membuat wanita kehilangan keanggunan jiwanya.
            Aku sadar bahwa aku bukanlah wanita yang begitu cantik dan dapat memikat setiap lelaki yang aku inginkan. Aku sangat senang karena lelaki yang memilihku sebagai wanita yang istimewa adalah lelaki yang tidak terbayangkan kelebihannya. Lelaki yang mampu membuat setiap wanita merasa iri karena kegeniusannya. Entah mengapa dia memilihku. Entah darimana bisikan hati itu berasal. Aku tidak perduli dengan alasan mengapa ia memilihku, yang aku tau dia begitu mencintaiku. Semoga saja itu bukan hanya ada dalam pemikiranku.
            Tuhan, tapi kenapa banyak sekali kabut yang menutupi hatiku. Banyak sekalipria di sekelilingku. Bukannya aku bimbang untuk memilih, namun aku hanya khawatir jika rasa ini akan goyah. Perasaan yang sulit hilang. Yah, aku memiliki sedikit perasaan istimewa kepada pria lain. Aku memang belum tau pasti apakah aku benar-benar mencintai priaku saat ini. Aku hanya memikirkan bahwa dia adalah laki-laki yang tepat untuk masa depanku. Meski rasa yang pernah tersangkut ini belum bisa sepenuhnya dilepaskan.

            Sebelum aku dekat dengan priaku saat ini, aku terlebih dahulu dekat dengan seorang lelaki yang cukup pendiam atau mungkin angkuh. Kami bertemu dalam sebuah organisasi. Sebenarnya, kedekatan kami hanya berlangsung beberapa hari saja. Bisa dianggap kami dekat sebatas teman kerja saja. Namun, rumor tak sedap mengusik ketenangan kami dalam bergaul. Rumor yang menyalah artikan kedekatan kami yang membuat kami harus menjaga jarak. Prasangka dari teman-teman berlangsung cukup lama dan sampai sekarang. Meskipun kami tidak pernah ngobrol bareng, tidak pernah saling menyapa, tidak saling sms dan komunikasi lainnya prasangka itu pun masih tetap ada dan berlangsung. Aku juga tidak paham dengan perasanku saat ini. Apakah aku tertekan. Dulu aku sangat mengharapkan bisa ngobrol lagi dengannya. Tapi, kubuang jauh pemikiran tak berguna itu. Meski sekedar berteman, prasangka teman-teman juga tetap tidak berubah padaku. Kenapa aku harus memikirkan teman-teman??? Tidak.. tidak.. itu bukan karena aku memikirkan prasangka teman-teman tapi karena memang sudah  tidak perlu dijalin lagi sebuah komunikasi antara aku dan dia. Ya, dia pun tetap bahagia meski tanpa mempunya seorang teman seperti aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar