Aku tau siapa diriku sekarang. Aku
bukanlah remaja yang masih suka berpetualang untuk mencari ketulusan cinta. Aku
sekarang adalah seorang wanita yang sudah harus memikirkan masa depan bersama
lelaki pilihan. Ya, seperti apa yang terjadi dengan teman-teman ku saat ini. Usia
19 tahun menjelang 20 tahun adalah masa di mana seseorang harus memikirkan
tentang sebuah keseriusan. Terlalu lama berpetualang akan membuat wanita
kehilangan keanggunan jiwanya.
Aku sadar bahwa aku bukanlah wanita
yang begitu cantik dan dapat memikat setiap lelaki yang aku inginkan. Aku sangat
senang karena lelaki yang memilihku sebagai wanita yang istimewa adalah lelaki
yang tidak terbayangkan kelebihannya. Lelaki yang mampu membuat setiap wanita
merasa iri karena kegeniusannya. Entah mengapa dia memilihku. Entah darimana
bisikan hati itu berasal. Aku tidak perduli dengan alasan mengapa ia memilihku,
yang aku tau dia begitu mencintaiku. Semoga saja itu bukan hanya ada dalam
pemikiranku.
Tuhan, tapi kenapa banyak sekali
kabut yang menutupi hatiku. Banyak sekalipria di sekelilingku. Bukannya aku
bimbang untuk memilih, namun aku hanya khawatir jika rasa ini akan goyah. Perasaan
yang sulit hilang. Yah, aku memiliki sedikit perasaan istimewa kepada pria
lain. Aku memang belum tau pasti apakah aku benar-benar mencintai priaku saat
ini. Aku hanya memikirkan bahwa dia adalah laki-laki yang tepat untuk masa
depanku. Meski rasa yang pernah tersangkut ini belum bisa sepenuhnya
dilepaskan.
Sebelum aku dekat dengan priaku saat
ini, aku terlebih dahulu dekat dengan seorang lelaki yang cukup pendiam atau
mungkin angkuh. Kami bertemu dalam sebuah organisasi. Sebenarnya, kedekatan
kami hanya berlangsung beberapa hari saja. Bisa dianggap kami dekat sebatas
teman kerja saja. Namun, rumor tak sedap mengusik ketenangan kami dalam
bergaul. Rumor yang menyalah artikan kedekatan kami yang membuat kami harus
menjaga jarak. Prasangka dari teman-teman berlangsung cukup lama dan sampai
sekarang. Meskipun kami tidak pernah ngobrol bareng, tidak pernah saling
menyapa, tidak saling sms dan komunikasi lainnya prasangka itu pun masih tetap
ada dan berlangsung. Aku juga tidak paham dengan perasanku saat ini. Apakah aku
tertekan. Dulu aku sangat mengharapkan bisa ngobrol lagi dengannya. Tapi,
kubuang jauh pemikiran tak berguna itu. Meski sekedar berteman, prasangka
teman-teman juga tetap tidak berubah padaku. Kenapa aku harus memikirkan
teman-teman??? Tidak.. tidak.. itu bukan karena aku memikirkan prasangka
teman-teman tapi karena memang sudah
tidak perlu dijalin lagi sebuah komunikasi antara aku dan dia. Ya, dia
pun tetap bahagia meski tanpa mempunya seorang teman seperti aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar